CONNECT WITH US
Ulwan Fakhri Noviadhista |
 13 Maret 2016 09:00

Sulitkah mengusir Samsung dari bisnis smartphone di Asia Tenggara?

Bisa dibilang cukup sulit. Sebab strategi diversifikasi produk mereka masih berhasil dan dapat bersaing dengan 'HP Cina' yang lebih murah.

Sulitkah mengusir Samsung dari bisnis smartphone di Asia Tenggara?

Techno.id - Siapa yang tak mengenal Samsung? Di industri smartphone global, perusahaan asal Korea Selatan itu adalah pemain terbesar. Pun di Asia Tenggara, Samsung masih menjadi pemeran utamanya.

Dari 100 juta unit lebih ponsel pintar yang terjual di ASEAN versi IDC, Samsung memegang pangsa pasar paling besar, yakni 21,7 persen. Kendati menurun dari tahun lalu yang mencapai 22,2 persen, Samsung tetap layak jumawa karena pesaingnya pun belum bisa menggoyahkan singgasananya.

Tengok saja Asus, produsen smartphone yang sekarang sedang naik daun. Kendati pertumbuhan per tahunnya di ASEAN terpantau lebih dari 100 persen, market share-nya masih di kisaran 8,4 persen. Serangan vendor asal Tiongkok yang menawarkan produk lebih murah juga hasilnya belum kelihatan secara signifikan. Apple? Masih cenderung stagnan.

 

Mengusir Samsung dari bisnis smartphone Asia Tenggara mungkin akan sangat sulit. Sebab, vendor ini mempunyai strategi yang kuat, contohnya dalam hal diversifikasi produk.

"Samsung kini tetap ada di puncak dengan pertumbuhan 18 persen lebih tinggi dari 2014, berkat merilis seri Galaxy J yang memiliki kisaran harga dari USD $75 (Rp900 ribuan) sampai USD $200 (Rp2,6 jutaan). Strategi ini sangat tepat di pasaran karena keterjangkauannya setara dengan harga produk dari vendor Tiongkok yang kian kompetitif," terang Jensen Ooi, Market Analyst for Client Devices (APeJ) IDC Malaysia.

Diversifikasi produk ini pun menguntungkan Samsung untuk menjangkau lebih banyak user. Alih-alih merilis satu model smartphone saja, Samsung menganekaragamkan produknya seperti di seri Galaxy J, supaya konsumen kelas entry level sampai menengah bisa memakainya. 

"Terlebih, Samsung terlibat dalam bermacam-macam marketing yang menarget beragam segmen konsumen di semua negara," imbuh Jensen, seperti dikutip dari rilis pers IDC (09/03/16).

Di Indonesia sendiri, Samsung masih memuncaki pasar smartphone Indonesia. Asus dan vendor lokal seperti Smartfren dan Advan membayang-bayanginya.

WHAT TO READ NEXT ?