CONNECT WITH US
Syakur Usman |
 10 Februari 2016 10:02

Dari 5 startup yang diinvestasi East Ventures, satu mati

CEO East Ventures: "Kesuksesan startup di Indonesia ada pada founder, bukan pada investor"

Dari 5 startup yang diinvestasi East Ventures, satu mati

Techno.id - Ada banyak faktor di balik kesuksesan sebuah startup di Indonesia. Yang jelas, beberapa di antaranya yang cukup penting adalah faktor pendiri dan investornya. Startup beken di Indonesia seperti Tokopedia, Traveloka, Scoop, Bridestory, BerryBenka dan Shopdeca memiliki satu kemiripan, yakni didanai oleh investor yang sama, East Ventures.

Ya, East Ventures yang berkantor di Jakarta, Singapura dan Jepang ini telah mendanai sekitar 30 startup pada tahun lalu. Bahkan bisa dikatakan East Ventures sebagai perusahaan modal ventura paling agresif di Indonesia.

Ditemui di kantor Jakarta yang berfungsi sebagai coworking bagi startup-nya, Willson Cuaca (37) bersedia menemui M Syakur Usman dan M Luthfi Rahman dari KapanLagi Network (KLN) untuk berbagi soal bisnis digital Indonesia, investasi di sepanjang 2015, hingga rencana di tahun ini.

Bisa dijelaskan perkembangan East Ventures hingga kini?

Kami mulai di 2010. Sejak 2010, banyak startup e-commerce. Investasi pertama kami di e-commerce, karena bisnis modelnya paling dimengerti. Dan ekosistem seperti Indonesia, yang investornya tidak banyak, kami harus investasi pada sesuatu yang dimengerti, sehingga investor asing dan lokal bisa mengerti lebih cepat. Dibandingkan kami harus investasi ke startup yang aneh-aneh, yang terlalu inovatif. Jadi saat mulai itu, kami sangat pragmatis, investasi di e-commerce.

Namun sejak 2015, tren bergeser. E-commerce masih menarik, karena potensi Indonesia besar sekali. tapi startup pendukung e-commerce bermunculan. Jadi e-commerce lokomotifnya, pendukungnya banyak. Misalnya startup untuk tools bagi pedagang iobline supaya lebih cepat kinerjanya. Maka itu, kami sekarang banyak investasi di Software as a Service (SaaS), seperti Jurnal. Trennya seperti itu.

Jadi e-commerce jadi lokomotif dan industri pendukungnya mulai bergairah, seperti education, fintech, dan healthcare. Dari sisi East Ventures, kami melihat satu hal, software bakal berubah semua dan membuat negara ini lebih efisien. Untuk itu, kami akan investasi ke semua sektor yang menggunakan teknologi dan software untuk membuat produknya lebih efisien. Itu visi besar kami.

Tahun lalu berapa startup yang diinvestasi?

Tahun lalu, kami investasi sekitar 30 startup, sehingga total menjadi sekitar 70 startup. Saya tidak ingat jumlah persisnya (berdasarkan situs East.vc, nama-nama startup yang didanai East, antara lain Prinzio, Sociolla, Konsula, IDNtimes, PopBox, Cermati, Sribu, SribuLancer, Tripvisto, Jurnal, Otten Coffee, WhatWeLike, Kudo, Livaza, Talenta, Orori, Moka, RuangGuru, Ralili, Valuklik, Sirclo, Urbanindo, Bilna, Alkemis Games, Bornevia, Tokopedia, BrideStory, Shopdeca, Traveloka, BerryBenka, Berrykitchen dan Scoop).

Berapa bujet dan target investasi tahun ini?

Kami tidak ada bujet investasi, karena tidak punya target. Tapi tahun lalu, kami investasi paling banyak, yakni 30 startup. Setiap tahun nilai investasi naik terus. Tahun ini bisa lebih tinggi dari tahun lalu.

Kami tidak pernah punya target investasi seperti harus investasi sekian banyak startup setiap tahun. Kalau ada startup, ya investasi. Kalau tidak ada, ya tidak ada. Karena kami percaya entrepreneur yang natural. Seseorang yang mau keluar dari pekerjaannya sendiri, kemudian membuat membuat sesuatu dan punya visi untuk itu.

Tahun ini, kami sudah investasi di dua startup, yakni Medico (startup Indonesia) dan AlgoMerchant (Singapura). Pada Februari ini kami ada dua startup lagi yang sudah closed.

Bisa dikatakan East Ventures adalah investor paling agresif di startup Indonesia saat ini?

Kami tidak merasa agresif. Biasa-biasa saja. Internet ada problem, ada founder bagus, kami investasi. Kami tidak agresif, mungkin karena mereka yang lambat. Kami biasa saja.

Secara umum, bagaimana gambaran bisnis digital Indonesia 2016?

Tahun 2016, lebih seru. Yang pasti sektor healthcare, SaaS dan education bakal berkembang. E-commerce makin besar, tapi enabler-nya dari startup pendukung e-commerce makin berkembang. Sektor financial technology masih menarik. Sharing economy atau on demand service juga punya peluang bagus.

Fokus East Ventures tahun ini di sektor mana saja?

Kami tidak benar-benar fokus. Kami lebih melihatnya begini, sektor mana di Indonesia yang tidak efisien atau software mana yang bisa membuat Indonesia lebih efisien. Tapi di Indonesia semua sektor tidak efisien, di mana-mana tidak efisien. Jadi kami akan masuk ke semua sektor. Yang penting ada technology driven. Harus ada fundamental teknologi yang bagus.

Namun kami tidak mau ikut di goverment site. Kami hanya membantu pemerintah dengan menggunakan ilmu startup.

WHAT TO READ NEXT ?