CONNECT WITH US
Denny Mahardy |
 17 September 2015 10:00

Ekonomi Indonesia ‘galau’, ekspansi teknologi geser ke luar Jakarta

Kondisi ekonomi sedang ‘galau’ karena tingginya nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah.

Ekonomi Indonesia ‘galau’, ekspansi teknologi geser ke luar Jakarta

Techno.id - Kondisi ekonomi sedang ‘galau’ karena tingginya nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah. Namun begitu, ekspansi perusahaan teknologi di Tanah Air tidak lantas surut. Misalnya saja Dell yang mengaku tak mengendurkan ekspansi usahanya di Indonesia meski kondisi ekonomi sedang tak pasti.

Besarnya pasar Indonesia jadi salah satu penyebab perusahaan teknologi enggan menyurutkan langkah ekspansinya di Indonesia. Jumlah penduduk yang tinggi serta posisi Indonesia sebagai negara berkembang yang getol mengadopsi teknologi ikut mendukung potensi besar yang ada di Indonesia.

Serunya lagi, Jakarta sebagai ibukota Indonesia yang selama ini jadi tolak ukur kondisi ekonomi di Indonesia bukan pasar utama bagi perusahaan teknologi, khususnya Dell. Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Susanto Djaja yang menjabat sebagai Presiden Direktur PT Metrodata Electronic.

“Jakarta memang besar, tapi untuk segmennya masih di bawah 35 persen saja. Sisa pasarnya masih berada di luar Jakarta," ujar Susanto saat ditemui tim Techno.id di acara Dell User Forum (DUF) 2015 yang berlangsung di Hotel Shangrila, Jakarta.

Susanto menyebutkan kota-kota besar lain di luar Jakarta seperti Medan, Bandung, Semarang, Surabaya, Makassar dan Balikpapan jadi pasar potensial bagi perusahaan teknologi dalam memasarkan produknya. Ekspansi ke kota-kota tersebut diakui telah dilakukan Dell selama ini.

Ia pun memaparkan pasar bagi produk dan layanan solusi teknologi dari Dell saat ini paling banyak berada di sektor pemerintahan. Tak hanya itu, perusahaan minyak dan gas juga diakui cukup getol mengadopsi produk-produk yang disediakan perusahaan yang berbasis di Texas, Amerika Serikat tersebut.

"Digitalisasi produk dan jasa telah mengubah cara perusahaan dalam beroperasi dan menjalankan bisnis. Kondisi ini memaksa para pembuat keputusan untuk menciptakan beban kerja baru dan menjembatani kesenjangan TI dan kebutuhan bisnis yang terus berevolusi,” tandas Susanto.

WHAT TO READ NEXT ?