CONNECT WITH US
Indah Pertiwi |
 28 April 2016 09:00

Resmi dideklarasikan, IFA segera garap proyek di smart city

Surabaya, Banyuwangi, Bandung, dan Banda Aceh sudah memiliki basis yang kuat dan telah menerapkan konsep smart city.

Resmi dideklarasikan, IFA segera garap proyek di smart city

Techno.id - Sebagai batu loncatan yang penting dalam pengembangan ekosistem pita lebar tetap (fix broadband), MASTEL (Masyarakat Telekomunikasi Indonesia) bersama Perkumpulan FTTH (Fiber To The The Home) Indonesia menyelenggarakan Indonesia FTTH Association Summit. Kegiatan tersebut juga merupakan komitmen dari 17 anggota baru IFA untuk memimpin pembangunan ultra-broadband di Indonesia mempercepat transformasi layanan digital TIK.

Kristiono,Ketua Umum Mastel mengatakan,"Saat ini agenda ekonomi digital adalah prioritas bagi Indonesia dan akan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi negara. Namun, pengguna pita lebar di Indonesia baru mencapai 4.3 juta orang dan penetrasi pita lebar tetap baru sebesar 7 persen saja di seluruh negara. Ada celah pasar yang besar untuk diisi MASTEL melalui IFA dan diharapkan dapat mendorong pengembangan pasar pita lebar tetap menuju pencapaian baru dengan memandu pengembangan ini."

Sementara itu, kota-kota seperti Surabaya, Banyuwangi, Bandung, dan Banda Aceh sudah memiliki basis yang kuat dan telah menerapkan konsep smart city. MASTEL dan IFA telah mengindentifikasi peluang untuk meningkatkan jaringan ultra broadband berdasarkan teknologi FTTH dan akan mengeksplorasi kerja sama strategis dengan kota-kota ini untuk memulai proyek percontohan yang bertujuan untuk mengoptimalkan penggunaan dan memanfaatkan potensi penuh infrastruktur telekomunikasi dan teknologi informasi oleh semua lapisan masyarakat.

Sebagai kota yang termasuk dalam smart city, Tri Rismaharani, Walikota Surabaya mengatakan bahwa sejak tahun 2002 kota Surabaya sudah mulai menerapkan penggunaan teknologi dalam berbagai aspek. Risma juga mengklaim bahwa Surabaya menjadi satu-satunya kota yang telah menggunakan sistem online 100 persen untuk ujian nasional. Teknologi mampu mengoptimalkan pendayagunaan yang belum maksimal.

Lebih lanjut, dengan masuknya teknologi dalam sistem kerja juga berdampak positif dari segi keuangan. “Kami bisa menghemat sekitar 20 hingga 25 persen untuk pengurangan biaya kertas”,pungkas Risma.

 

WHAT TO READ NEXT ?