CONNECT WITH US
Ulwan Fakhri Noviadhista |
 14 Maret 2016 20:00

Friendster bangkit dari kubur!

Media sosial yang populer di era 2000-an itu nampaknya 'bergentayangan' khusus untuk netizen di Indonesia.

Friendster bangkit dari kubur!

Techno.id - Mari mengenang masa lalu sejenak. Sebelum Facebook, Twitter, Instagram, atau Snapchat booming di Indonesia, ingatkah Anda ada satu media sosial yang begitu populer di era 2000-an? Yap, itu dia Friendster.

Media sosial asal Malaysia itu telah lama meninggalkan penggunanya yang kebanyakan datang dari Asia, termasuk Indonesia. Tahun 2011, mereka memutuskan untuk rebranding dari situs jejaring sosial ke social gaming. Sayang, mereka tak mampu bersaing dengan medsos lainnya dan terpaksa menutup layanannya pada 14 Juni 2015.

Namun, tim Techno.id baru saja menemukan situs Friendster yang aktif kembali. Beralamat di Friendster.id, jejaring sosial itu bangkit dari kubur khusus untuk netizen Tanah Air. Hal itu terlihat dari pemilihan tagline utama mereka di homepage - yang tentu dipilih secara sengaja - bertajuk 'Temukan Teman Lamamu'. Tagline itu pun tidak berganti walau bahasa di situs itu sudah diset menjadi Bahasa Inggris maupun bahasa asing lainnya.

 

Rasa penasaran redaksi pun menuntun ke laman About Us. Di sana, terpapar bahwa Friendster versi anyar ini diklaim sebagai "situs jejaring sosial karya anak bangsa". Padahal, Friendster saat aktif beroperasi dulunya berbasis di Kuala Lumpur. Di samping itu, tak tercantum pula siapa pengelola Friendster.id ini.

 

Sementara itu dari segi interface-nya, situs ini lebih condong ke Facebook. Selain tombol home dan wordmark 'Friendster' yang berbeda dengan yang dulu, ada juga tombol lain di bar bagian atas semacam 'Notification', 'Friend Requests', serta 'Messages'. Ada juga fitur chat di sebelah kanan bawah seperti di Facebook.

 

Untuk saat ini, cukup aman menyimpulkan bahwa situs ini bukanlah Friendster yang dulu Anda kenal atau gunakan, melainkan ada pihak lain dari Indonesia yang membeli domain Friendster.id untuk platformnya sendiri. Apakah ini bisa dibilang sebagai pembajakan Indonesia atas produk milik Malaysia? Bagaimana menurut Anda?

WHAT TO READ NEXT ?