Semua presiden pasti perhatikan industri pesawat terbang

Semua presiden pasti perhatikan industri pesawat terbang

Techno.id - Industri pesawat terbang di Indonesia saat ini masih cukup identik dengan Presiden RI ke-3, Bacharudin Jusuf Habibie. Sayang, keberhasilannya mengembangkan pesawat terbang N-250 hingga mengudara perdana pada 10 Agustus 1995 silam harus kandas karena himpitan krisis moneter 1998.

Tak ingin prestasi ayah tercinta kandas begitu saja, Ilham Akbar Habibie selaku anak pertama mantan Presiden RI ke-3 itu berusaha kembali mewujudkan secara pasti melalui proyek pesawat Regio Prop 80 atau R-80, di mana pesawat ini sendiri adalah hasil pengembangan pesawat dari N-250.

Secara garis besar, R-80 dibekali dengan teknologi yang lebih canggih berikut kapasitas yang lebih besar. Pesawat jarak pendek bermesin baling-baling (turboprop) ini dirancang untuk dapat mengangkut sebanyak 80 penumpang, terbang di ketinggian 25.000 kaki, berkecepatan maksimal hingga 330 knot (605 km per jam), dan daya jelajah hingga 600 kilometer.

Saat ini, pengembangan R-80 berada di bawah kendali PT Regio Aviasi Indonesia, anak usaha PT Ilthabi Rekatama, perusahaan yang dipimpin langsung oleh Ilham Akbar Habibie, putra sulung BJ Habibie. Lantas, bagaimana perkembangan R-80 sejauh ini?

Berikut kutipan M Syakur Usman dari KapanLagi Network Group (KLN) saat mewawancarai Ilham Akbar Habibie, Presiden Direktur PT Ilthabi Rekatama sekaligus Presiden Komisaris PT Regio Aviasi Indonesia yang baru-baru ini dilakukan.

Seperti apa perkembangan terbaru proyek pesawat R-80?

Masih di fase sama, yakni desain awal atau pre-eliminary desain. Fase desain di mana komponen utama pesawat seperti mesin, kokpit, kaki pesawat, dan sistem pengendaliannya masih belum ditentukan. Itu empat komponen utama pesawat yang tak pernah dibuat manufaktur pesawat. Semua beli jadi dari General Electric (GE), Roll-Royce (RR), dan Pratt and Whitney Canada untuk komponen mesin.

Ketiga pabrik mesin pesawat itu saat ini bersaing di hampir semua pesawat yang ada di dunia, termasuk R-80. Semua sudah menawarkan kepada kami. Tapi akan kami tentukan di tahun depan. Begitu sudah ditentukan, barulah kami tanda tangan kontrak dengan pihak-pihak pemesan dan membeli. Sekarang kami baru punya Letter of Intens (LoI), karena bagaimana kami menjual pesawat jika belum menentukan komponen utamanya.

Siapa saja pihak pembeli tersebut?

Kami sudah membuat Airlines Working Group, maksud filosofinya adalah melibatkan calon konsumen dari maskapai seperti Garuda Indonesia. Kami membutuhkan maskapai yang sudah pengalaman mengoperasikan pesawat. Ini pengalaman baru. Untuk saat ini, pemesan pesawat R-80 adalah NAM Airline (anak usaha Sriwijaya Air) sebanyak 100 unit. Kedua adalah KalStar sebanyak 25 unit, dan ketiga adalah Trigana sebanyak 20 unit.

Potensi pembeli lain seperti Citilink?

Citilink sudah menentukan hanya pakai pesawat mesin jet Airbus A320, bukan propeller (baling-baling). Namun Garuda Indonesia bisa menggunakan mesin propeller dengan merek Garuda Explorer-nya.

Kami mendirikan Airlines Working Group beberapa tahun lalu, di mana Garuda diwakili oleh Citilink. Namun kala itu belum diputuskan jika Citilink hanya akan menambah pesawat bermesin jet Airbus A320. Dugaan saya, mungkin karena Citilink bersaing langsung dengan Air Asia dan Tiger Airways, yang juga pakai Airbus A320.

Jadi, Citilink tidak ada pakai pesawat propeller, mungkin Garuda Indonesia. Namun saat ini Garuda sudah membeli pesawat ATR karena memang membutuhkan sekarang.

Sebagai anggota Airlines Working Group, Garuda Indonesia sangat tahu dan kenal pesawat kami. Jadi kami harap Garuda akan membeli dari kami jika membutuhkan pesawat propeller berkapasitas lebih besar. Bahkan, pesawat kami akan diperbesar lagi kapasitas dari 80-90 kursi menjadi 100-110 kursi. Sebab prediksi kami, pesawat propeller akan membutuhkan kapasitas yang lebih besar.

(brl/red)