Anggota DPR AS pertanyakan pengambilan data biometrik ke Bos TikTok, malah jadi bahan olokan warganet

Advertisement

Pemerintah AS blokir TikTok berujung olok-olok

Carter menilai bahwa TikTok tengah mengumpulkan data biometrik para penggunanya. Ia menanyakan terkait bagaimana mata pengguna melebar saat menonton video.

"Dapatkah Anda memberitahu saya sekarang, dapatkah Anda mengatakan dengan kepastian 100%, bahwa TikTok tidak menggunakan kamera ponsel untuk menentukan apakah konten yang menimbulkan pelebaran pupil harus diperkuat oleh algoritma? Bisakah Anda memberitahu saya itu?" tanya Carter.

"Kami tidak mengumpulkan data tubuh, wajah, atau suara untuk mengidentifikasi pengguna kami." jawab Chew.

"Kamu tidak?" ujar Carter menimpali.

"Tidak. Satu-satunya data wajah yang kami kumpulkan adalah saat Anda menggunakan filter yang ada, katakanlah kacamata hitam, di wajah Anda, kami perlu tahu di mana mata Anda berada" papar Chew.

"Mengapa kamu perlu tahu di mana letak mata jika kamu tidak melihat jika matanya melebar?" tanya Carter kembali.

"Dan data disimpan di perangkat lokal Anda dan dihapus setelah digunakan jika Anda menggunakannya untuk wajah. Sekali lagi, kami tidak mengumpulkan data tubuh, wajah, atau suara untuk mengidentifikasi pengguna kami." tegas Chew.

"Saya merasa itu sulit dipercaya. Menurut pemahaman kami, mereka melihat ke mata," timpal Carter.

Potongan video kongres tersebut diunggah oleh akun TikTok dengan handle @gbp97. Pengguna TikTok tersebut menjelaskan bahwa dirinya malu dengan pertanyaan yang dilontarkan para anggota dewan. Sebab, hal yang dibicarakan tak substansial, dan malah cenderung dewan tidak mengetahui seluk beluk aplikasi TikTok.

Bahkan banyak warganet cenderung mengolok-olok para dewan melalui postingan short video tersebut.

"Kenapa aku tertawa tapi juga dipenuhi amarah pada saat yang sama perasaan apa ini" ujar salah satu dengan handle @Shanbun.

Banyak warganet menyayangkan terkait dewan parlemen yang tidak tahu menahu terkait ilmu teknologi aplikasi, dan bagaimana mekanisme kerjanya. Mereka malah cenderung menjadikan tuduhan tak berdasar. Bahkan ada yang menganggap bahwa anggota tersebut terlalu tua untuk urusan teknologi digital.

"We need age limits" atau berarti "Kita membutuhkan batasan umur" ujar akun TikTok Alex Kim.

Ada banyak video tentang sidang kongres terkait TikTok di Parlemen Amerika Serikat, dan isinya hampir sama yaitu kutipan pernyataan politisi lainnya. Warganet memberikan kesimpulan akhir bahwa sidang yang dilaksanakan tersebut tidaklah berguna. "Politisi tidak peduli untuk memahami," komentar seorang pengguna, demikian dilansir dari Mashable.

Advertisement


(brl/guf)