CONNECT WITH US
Indra Zakaria |
 15 Februari 2016 18:00

Emirsyah Satar: Kami merancang MatahariMall agresif di Indonesia

Chairman MatahariMall ini buka-bukaan soal strategi bisnis pendatang baru di dunia e-commerce tersebut.

Emirsyah Satar: Kami merancang MatahariMall agresif di Indonesia

Seberapa agresif Lippo Group bermain di bisnis baru digital?

Sphere head Lippo Group di bisnis digital adalah anak James Riady sendiri, yakni John Riady. Dan MatahariMall menjadi salah satu vehicle yang dipakai Lippo Group secara sungguh-sungguh dan menyeluruh mengarah ke era digital.

Di group sendiri, masih banyak bisnis secara offline. Untuk itu, James Riady, membagi atau split menjadi dua, karena melihat digital adalah masa depan bisnis.

Namun bukan berarti di bisnis offline Lippo Group berhenti. Kami tetap ekspansi, misalnya Matahari Department Store mau buka 20 outlet baru. Kami masih merasa kurang, karena Indonesia negara besar.

Saya selalu berpendapat era digital sudah mulai dan sekarang ini perkembangannya sangat cepat. Mau tidak mau, jika ingin survive perusahaan harus memikirkan bagaimana mengoptimalkan teknologi digital ini.

Proyeksi Anda, kapan bisnis baru digital ini berkontribusi signifikan di Lippo Group?

MatahariMall kami rencanakan secara agresif di Indonesia. Tapi tentu makan waktu sekitar 3 hingga 5 tahun. Di bisnis digital, we are not the first, but attacker. Kami crazier, faster, and different.

Kami percaya 5 sampai 10 tahun ke depan, di pasar modal Indonesia, mungkin perusahaan yang kapitalisasi pasarnya terbesar nanti berasal dari perusahaan berbasis digital. Contoh saja, Alibaba di Tiongkok, valuasinya mencapai USD 200 miliar.

Paling tidak, may be based business is same, but all the proccess and how they do the business is digital. (Saat perkenalan MatahariMall di Februari 2015, John Riady pernah menyatakan bisnis MatahariMall ditargetkan mencapai USD 1 miliar dalam 2 hingga 3 tahun ke depan).

Bagaimana dukungan pendanaan sampai sejauh ini?

Kami sedang raise fund. Saat bertemu dengan calon investor, respons calon investor cukup positif terhadap MatahariMall.

Karena mereka yakin ini bisnis yang bakal berkembang di jangka panjang. MatahariMall melakukan roadshow ke calon investor global pada November 2015.

Data yang saya peroleh, estimasi market size di ASEAN. Pada 2014, Indonesia mencatat penjualan ritel online di bawah 1 persen dari total ritel nasional. Namun pada 2015 persentasenya naik menjadi 3,4 persen.

Secara nilai juga naik dari USD 1 miliar menjadi USD 1,7 miliar. Secara persentase, Singapura tertinggi, tapi nilainya hanya USD 1 miliar. Thailand 3,8 persen dengan nilai USD 1,4 miliar dan Malaysia sekitar USD 500 juta.

Kemudian secara global, kalau dilihat, e-commerce ini dimulai dari Amerika Serikat. Kemudian berlanjut ke Eropa, Tiongkok, dan India.

Penjualan ritel online di Amerika Serikat tercatat 14 persen dengan nilai USD 270 miliar. Inggris lebih tinggi dengan 25 persen dan nilai USD 71 miliar.

Tiongkok lebih tinggi dari Amerika dengan nilai USD 293 miliar, tapi penetrasinya hanya 14 persen. Dan India, penetrasinya baru 8,2 persen dengan nilai USD 16 miliar.

Nah, sekarang Indonesia. Coba Anda bayangkan Indonesia, sebagai negara berpopulasi keempat terbesar di dunia. Artinya, potensinya sangat besar.

Ini salah satu alasan saya terima tawaran Lippo Group, karena ini akan sangat menarik. Sebelum saya gabung di MatahariMall, saya tidak tahu soal ini.

Jadi di Asia Tenggara, Indonesia sudah yang terbesar di pasar ritel online. Sekarang tantangannya bagaimana meningkatkan perdagangan online ini.

Investornya dari mana saja?

Investornya asing semua. Mereka akan investasi di MatahariMall.

Jadi apakah MatahariMall juga akan ekspansi ke ASEAN?

Ekspansi ke ASEAN? Belum, buat apa. Kami ingin melakukan eksplorasi terhadap pasar domestik. Pasar ASEAN itu 50 persen ada di Indonesia. Jadi kami fokus di Indonesia dulu. Di sini saja kami belum menang.

Anda juga aktif di Kadin Indonesia sebagai Wakil Ketua Umum. Apa yang menjadi concern Anda?

Di Kadin, kami ingin memastikan bagaimana regulasi e-commerce bisa menunjang para pemain lokal. Misalnya di venture capital, kami sedang membahasnya dengan Otoritas Jasa keuangan (OJK).

Jangan membuat banyak aturan yang berpotensi menghalangi pemain lokal. Misalnya, tidak bisa aturan perdagangan dimasukkan ke e-commerce, karena ini berbeda sekali. Kadin ingin memastikan hal itu, supaya menghindari dominasi pemain asing.

Jangan sampai kejadian seperti di industri penerbangan terkait kompensasi kepada penumpang. Jika maskapai lokal delay sekian menit atau jam, wajib memberikan kompensasi kepada penumpang seperti makanan-minuman, hotel, dan lain-lain. Tapi apakah maskapai asing kena kewajiban itu? Tidak, kenapa, karena aturannya begitu. Ini yang ingin Kadin ingin hindari. Kadin paham kemampuan pemerintah membuat regulasi ini tidak bisa mengikuti perkembangan kecepatan teknologi dan bisnis digital.

WHAT TO READ NEXT ?