Melihat Gerhana Matahari Total dengan aman versi LAPAN

Advertisement

Techno.id - Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, memaparkan tips kepada masyarakat yang ingin melihat proses terjadinya Gerhana Matahari Total, yang diprediksi akan jatuh pada 9 Maret 2016 mendatang.

Menurutnya, Gerhana Matahari merupakan sebuah peristiwa alam, di mana posisi Bulan terletak di antara Bumi dan Matahari. Pada saat ini, makhluk hidup di Bumi dapat melihat sebagian atau bahkan seluruh cahaya Matahari.

Meski ukuran Bulan jauh lebih kecil dibanding Matahari, di posisi ini pula, bayangan Bulan mampu menutupi cahaya Matahari secara utuh. Hal ini lantaran Bulan berjarak rata-rata 384.400 kilometer dari Bumi lebih dekat dibanding Matahari yang berjarak rata-rata 149.680.000 kilometer.

"Boleh melihat langsung, asal berhati-hati dan jangan berlama-lama. Melihat gerhana Matahari sama dengan melihat Matahari sehari-hari, jangan dipaksakan. Kalau punya, gunakan kacamata Matahari yang dapat meredupkan 100.000 kali," ujarnya sebagaimana dikutip dari Merdeka, Kamis (03/03).

Jika tidak memiliki kacamata seperti itu, lanjutnya, masih ada alternatif lain. Salah satunya yakni dengan alat peredup cahaya seperti kacamata las, kacamata hitam atau film bekas rontgen. Namun cara ini harus dilakukan selama beberapa detik saja (sekadar melihat perubahan tutupan Bulan di piringan Matahari).

"Ada lagi melalui cara tradisional. Cara tradisional ini menggunakan pantulan air juga bisa digunakan dan dengan menggunakan proyeksi dengan kertas berlubang juga bisa dilakukan," jelasnya.

Kendati demikian, ketika proses Gerhana Matahari menjadi total, sebaiknya jangan dilihat terlalu lama. Namun saat Gerhana Matahari Total, boleh dilihat tanpa alat bantu.

"Berhati-hati dan jangan lama-lama berlaku untuk pengamatan Gerhana Matahari. Pada saat total, kita boleh melihat langsung tanpa alat karena cahaya korona sangat lembut," papar Thomas.

Advertisement


(brl/red)