Kondisi kanker di Indonesia masih memprihatinkan

Advertisement

Techno.id - Guru Besar Farmakologi Fakultas Farmasi Universitas Pancasila (UP) Ros Sumarny mengatakan jika negara-negara miskin dan negara-negara berkembang di seluruh dunia masih rentan terhadap penyakit kanker.

Menurutnya, kerentanan terhadap penyakit kanker dapat disebabkan oleh kondisi internal suatu negara. Kondisi internal itu, kata Sumarny, misalnya bisa berupa letak geografis atau pola hidup dan makan masyarakatnya.

"Peningkatan penyakit kanker juga dipengaruhi oleh letak geografis sebuah negara dan juga pola hidup dan makan masyarakat setempat," ujarnya.

Bagi Sumarny, hasil studi populasi dari Nationa Cancer Institute (NCI) terbaru telah menunjukkan ciri-ciri tersebut di Indonesia. Pasalnya, kanker menduduki peringkat ketujuh penyebab kematian tertinggi di Indonesia setelah stroke, tuberkolosis, hipertensi, cidera, perinatal, dan diabetes militus.

Hal itu kian diperburuk dengan laporan Global Burden Cancer (GBC) di tahun 2013. Saat itu GPC memang merilis estimasi data yang cukup mencengangkan, bahwasannya, jumlah penderita kanker di Indonesia adalah sebanyak 134 per 100.000 penduduk.

Setidaknya, sebesar 1,4 persen penyakit kanker di Indonesia telah menghinggapi di berbagai umur. Sementara itu, usia 75 tahun ke atas menjadi yang tertinggi dengan lima persen. Sedangkan umur 1-4 dan 5-14 tahun menjadi yang terendah dengan 0,1 persen.

Adapun penyakit kanker di Indonesia yang paling banyak memakan korban adalah kanker paru (19 persen). Selanjutnya diikuti dengan kanker lambung, hati, kolorektal (9 persen), dan kanker payudara (6 persen).

Advertisement


(brl/red)