Kesehatan jantung nyatanya berhubungan dengan tweet Anda!

Advertisement

Techno.id - Twitter sudah lama dikenal sebagai platform media sosial dengan banyak kegunaan, mulai dari penyebarluasan gambar dan video lucu sampai penyuntikan ideologi. Ternyata media sosial berlambang burung biru itu masih memiliki fungsi lain, tepatnya di bidang riset dan kesehatan. Ya, berbekal dari analisis tweet milik penduduk di wilayah tertentu, peneliti kini bisa mengetahui kisaran penderita serangan jantung di daerah tersebut.

Meski masih sulit dipercaya, metode tersebut telah dibuktikan langsung oleh sekelompok peneliti dari University of Pennsylvania, Amerika Serikat, dan hasilnya pun bisa diterima. Riset tersebut menitikberatkan pada tinjauan melalui kacamata psikologi dan gaya bahasa yang dipakai dalam menyampaikan sebuah tweet. Mereka pun mengungkap bahwa banyaknya tweet dengan nada negatif, seperti amarah dan kesedihan, yang kerap muncul di suatu daerah berbanding lurus dengan tingginya laporan kematian akibat serangan jantung. Hal sebaliknya juga berlaku.

Penelitian ini mengumpulkan tweet milik publik sepanjang tahun 2009 hingga 2010 dari 1.300 kabupaten di Amerika Serikat. Sedangkan indikator analisisnya menggunakan kamus berisi emosi yang sudah distruktur sedemikian rupa dan generator yang secara otomatis bisa mengelompokkan tweet berdasarkan pemilihan diksinya ke sikap atau perasaan yang ingin disampaikan oleh sampel. Untuk membuktikan hasil riset, peneliti juga merujuk pada data berisi kisaran korban serangan jantung yang dirilis oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sebuah lembaga kesehatan publik milik pemerintah Amerika Serikat.

Para peneliti turut membuktikan kalau kesehatan mental dapat berdampak juga pada ketahanan fisik. Anggapan tersebut telah lama didengungkan, tetapi masih sulit untuk dibuktikan. Maka dari itu, kesimpulan dari penelitian ini dirasa cukup untuk menjadi bukti ilmiah dari argumen itu.

"Ketika seseorang memiliki emosi yang negatif, hal itu dapat menuntunnya pada tindakan dan respons sosial yang buruk, seperti mabuk, pola makan yang tidak teratur, dan mengisolasi diri dari lingkungan yang positif," kata Margaret Kern, salah satu anggota dari tim peneliti, pada EurekAlert (21/1/15).

Metode ini memang tak 100 persen akurat, tetapi berdasarkan grafis yang tersaji di atas, perbedaannya juga tak terlalu mencolok. Penelitian ini pun bisa mendobrak riset konvensional, yang umumnya memakai indikator konsumsi rokok atau alkohol, untuk mengukur risiko serangan jantung di daerah tertentu.

Nampaknya, riset seperti ini cukup aplikatif untuk dipraktikkan di Indonesia. Pasalnya, pengguna Twitter aktif di Tanah Air ialah yang terbesar kelima di dunia, dengan lebih dari 29 juta user. Bagaimana, tertarikkah Anda meneliti kebiasaan tertentu warga Indonesia lewat Twitter?

Advertisement


(brl/red)