Microsoft pamerkan banyak data pengguna Windows 10

Microsoft pamerkan banyak data pengguna Windows 10

Techno.id - Walaupun Microsoft mengatakan jika Windows 10 tidak akan mengumpulkan banyak data pengguna dan untuk meyakinkan pengguna, perusahaan tersebut telah memperbarui kebijakannya. Namun, sayangnya Microsoft melakukan kesalahan fatal dengan menampilkan sejumlah data pengguna yang diposting di blog resmi Windows.

Selain mengungkapkan jika Windows 10 kini digunakan oleh 200 juta perangkat di seluruh dunia, Microsoft juga memamerkan data yang dikumpulkan dari penggunanya. Seperti yang dimuat di blog resminya, untuk bulan Desember yang lalu, pengguna telah menghabiskan lebih dari 11 miliar jam pada Windows 10.

Tidak hanya itu, selama 44,5 miliar menit pengguna menghabiskan waktu di Microsoft Edge dalam bulan Desember. Kemudian sejak peluncuran Cortana, ada lebih dari 2,5 miliar pertanyaan yang diajukan pengguna saat menggunakan asisten virtual tersebut.

Sekitar 30 persen lebih Bing mendapatkan permintaan pencarian di Windows 10 dibandingkan versi Windows sebelumnya. Ada lebih 82 miliar foto yang dilihat dalam Windows 10 Photo App. Selain itu, aplikasi games terus tumbuh pada Windows 10 tahun 2015 dan gamers menghabiskan lebih dari 4 miliar jam bermain games di perangkat Windows 10 mereka.

Memang ini adalah sebuah statistik yang menarik yang menandakan jika Windows 10 kini memiliki pangsa pasar yang bagus. Namun, sebuah artikel di Ghacks.net yang ditulis oleh Martin Brinkman mengatakan jika data ini adalah sebuah kesalahan.

"Statistik menunjukkan jika Microsoft dapat mengumpulkan lebih banyak data dari yang diperkirakan sebelumnya," tulisnya. "Sementara tidak jelas data apa yang sebenarnya dikumpulkan, jelas sekali jika perusahaan ini mengumpulkan informasi tentang penggunaan aplikasi individu dan program pada Windows," tambahnya.

Pengumpulan data ini memang tidak bisa dihindari bahkan Windows 10 akan mengumpulkan data tersebut saat Anda menggunakan perangkat. Lebih parahnya, Anda tidak tahu data apa yang mereka kumpulkan dan tidak bisa menghentikannya. Hal ini tentu saja melanggar privasi pengguna dan Microsoft dinilai tidak memiliki transparansi sehingga menimbulkan kekhawatiran pengguna.

(brl/red)